Rabu, 12 Oktober 2011

Greatest Hits Tracklisting & Artwork Revealed!


CD 1

1. Swear It Again

2. If I Let You Go

3. Flying Without Wings

4. I Have A Dream

5. Against All Odds

6. My Love

7. Uptown Girl

8. Queen Of My Heart

9. World Of Our Own

10. Mandy

11. You Raise Me Up

12. Home

13. What About Now

14. Safe

15. Lighthouse

16. Beautiful World

17. Wide Open

18. Last Mile Of The Way

The 2 disc deluxe edition of the album also includes an exclusive 35 track DVD as well as a bonus CD, the bonus CD tracks are as follows:

CD 2

1. Seasons in the Sun

2. Fool Again

3. What Makes A Man

4. When You’re Looking Like That

5. Bop Bop Baby

6. Unbreakable

7. Hey Whatever

8. Obvious

9. When You Tell Me That You Love Me

10. Amazing

11. The Rose

12. Us Against The World

13. What About Now (Live at the O2)

14. Uptown Girl (Live at the O2)

15. Mandy (Live at the O2)

16. Home (Live at the O2)

17. Flying Without Wings (Proms In the Park 2011)

18. You Raise Me Up (Proms In the Park 2011)

Sabtu, 08 Oktober 2011

Westlife and Gravity thrill Jakarta

FAMOUS IRISH BOY BAND IN CONCERT

Seven years since their last performance in Indonesia, the famous Irish boy band, Westlife, finally made their comeback in Jakarta on the evening of October 5, quenching the longing of their fans. This exuberant show was part of their world tour entitled, The Gravity, held at the Tennis Indoor Stadium in Senayan, Jakarta. Thousands of loyal fans from Jakarta and other major cities of Indonesia such as Bandung, Surabaya, and Lombok flocked to the site, hours before the show commenced.

A special Meet and Greet session organized by Enterprise Ireland was held before the fabulous quartet of Nicky Byrne, Kian Egan, Mark Feehily, and Shane Filan went on stage. Speaking for Enterprise Ireland, Claire Tracey stated that they had a number of fortunate loyal fans to come face to face and interact closely with the boy band, which supports education in Ireland. When asked about how he sees Indonesia, Nicky simply replied, “It’s amazing.” The Meet and Greet session itself was short, but it left a lasting memento for those who got the chance to just shake hands or take pictures with all Westlife members.

The concert kicked off at 2000 Western Indonesia Time, as the rumbling sounds of the hysterical audience grew louder by the minute. As the curtains were raised, Westlife appeared with their elegant trench coats and black ties, and shook the stadium with “When you‘re looking like that,” while the audience passionately sang along with them.

After the opening song, Mark greeted the audience and expressed his excitement to return and meet his fans in Indonesia. “I hope you guys don’t just scream, but also sing along with us, but watch out don’t let anybody get hurt,” said Mark, as Westlife went on to play “World of Our Own,” “What Makes A Man,” and “What About Now.”

The hysteria and frenzy got somewhat out of control as the quartet played “Home.” The adrenalin drove some among the audience to push one another, causing a number to faint. The concert was paused for a short moment as the concert crew and security staff tried to get the crowd to cool down and restore order. Mark, Nicky, Kian, and Shane appeared to ease the hysterical crowd. “We will play one more song, but if you guys can’t behave, that song’s gonna be our last” said the group as they performed “My Love.” As the crowds came to order, the concert was continued with “Season in the Sun,” “You Raise Me Up,” “I am Already There,” and “ I Will Reach You.”

As Westlife played the phenomenal “Flying Without Wings,” Nicky pulled out the Irish flag and wrapped it around his neck. There was no single person that did not sing along to the song, right from the beginning. “Uptown Girl” became the finale of the fascinating night, and as midnight approached, Westlife bade farewell and left thousands in the crowd still craving for more.

With their distinct style and sounds, Westlife has added to the ongoing list of international concerts in Jakarta. For musical fans, don’t stop your engine yet, for Hip Hop and R&B stars, 50 cent and Akon, will also set up stage this very October.

Credit/Source: Indonesia.travel / www.eturbonews.com


Aneh, pendeta Kristen ingin "menghukum" Nabi Muhammad SAW


FLORIDA (Arrahmah.com) – Seorang pendeta Kristen terkenal dari Florida, Terry Jones, yang dikenal dengan pembakaran Al Qur’an berkata pada The British Daily Mail bahwa ia bermaksud untuk menempatkan Nabi Muhammad SAW pada “pengadilan publik”.
Pernyataan dari pendeta Kristen ini banyak dikutip oleh media Zio yang mengingatkan bahwa kegiatan Jones dan penggantinya, pendeta Wayne Sapp dari florida menyebabkan ledakan kemarahan di kalangan ummat Islam hingga menyebabkan serangan ke markas PBB di Mazar-e-Sharif, Afghanistan yang menewaskan apa yang disebut dengan “diplomat PBB” juga menewaskan 4 Muslim yang dibunuh oleh para “diplomat” itu.
“Kami akan mencoba untuk mencari ahli dari dua sisi, dan jika Muhammad ditemukan tak bersalah….. maka kami akan meminta maaf kepada publik Islam, kepada Al Qur’an, kepada pengikut Muhammad untuk tindakan kami yang menghina mereka.”
Jika dia terbukti bersalah, maka kita akan berurusan dengan dia dalam cara yang sama seperti pembakaran Al Qur’an.  Kami menawarkan kemungkinan empat atau lima bentuk hukuman berbeda dan kemudian memilih bentuk hukuman yang dipilih rakyat.
Kami melakukan hal yang sama dengan Al Qur’an.  Kami memiliki empat bentuk hukuman-dibakar, dirobek dan menghadapi satu grup regu tembak.  Kami akan mengumpulkan beberapa jenis gambar atau beberapa foto yang merepresentasikan Muhammad dan kemudian akan dieksekusi,” ujar pendeta gila Kristen, Terry Jones.
Perlu diingat bahwa sebelumnya, pada 20 Maret, seorang kepala biara di salah satu gereja di Florida, pendeta Wayne Sapp, “menghukum” al Qur’an dengan membakarnya dan mengklaim bahwa Al Qur’an “bersalah” karena melakukan “banyak kejahatan”.
Sapp menyiram Al Qur’an dengan bahan bakar di atas nampan logam, lalu membakarnya.  Penghinaan terhadap kitab suci ummat Islam ini dilakukan di gereja dan disaksikan oleh 30 orang Kristen.
Kafirin menggunakan segala cara yang memungkinkan baik fisik maupaun ideologis terhadap ummat Islam dengan harapan memalingkan orang-orang dari agama Allah.  Namun, semua upaya ini, menyebabkan hasil yang berlawanan.
Sejumlah orang Kristen pribumi dan atheis telah memeluk Islam, meningkat berkali-kali lipat sejak 2001.  Islam diakui sebagai agama tercepat penyebarannya, jumlah pemeluknya tumbuh dengan pesat.
Meski ada upaya internasional untuk menghentikan penyebaran Islam di daratan Muslim yang diduduki, perang penaklukkan dan pemaksaan agama-demokrasi-hanya memperluas wilayah Jihad di seluruh dunia.
“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS. ASH-SHAFF:8)
(haninmazaya/arrahmah.com)

Westlife Bikin Video Dokumenter Gravity Tour 2011 di Asia


JAKARTA, KOMPAS.com — Berkait dengan konser-konser Gravity Tour 2011 di Asia, boybandasal Irlandia, Westlife, yang terdiri dari Nicky Byrne, Kian Egan, Mark Feehily, dan Shane Filan, tidak pernah lepas dari pendokumentasian kegiatan mereka di atas dan di luar panggung.

"Dengan kamera (kamera video genggam) ini kami selalu mengabadikan segala sesuatunya," kata Byrne dalam jumpa pers konser Gravity Tour 2011 di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta, Rabu (5/10/2011).

Lanjut Byrne, hasil rekaman video di Jakarta itu akan digabung dengan kota-kota lain yang dikunjungi dalam Gravity Tour 2011 di Asia. Kata Byrne lagi, semuanya akan digarap menjadi sebuah video dokumenter mengenai Gravity Tour 2011 di Asia, yang merupakan ajang promosi album baru mereka, Gravity. "Ini akan menjadi video dokumenter Westlife The Movie di Asia," terang Byrne.

Kedatangan Westlife di Indonesia kali ini merupakan kali yang keempat. Boyband yang terbentuk pada 3 Juli 1998 ini pernah tampil di Jakarta pada tahun 2000, 2001, dan 2006.


"Kegilaan" Tak Terduga Fans Westlife



JAKARTA, KOMPAS.com -- Boyband dari Irlandia Westlife, yang kini terdiri dari Nicky Byrne, Kian Egan, Mark Feehily, dan Shane Filan, sebelum konser Gravity Tour 2011 digelar di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta, Rabu (5/10/2011) malam telah menjanjikan bahwa mereka akan menghadirkan suasana "gila-gilaan" dalam konser itu. Pernyataan mereka memang terbukti, bahkan "kegilaan" para penggemar mereka tak terduga.
Semangat para calon penonton konser Westlife itu sudah terasa sejak Rabu sore. Mereka sudah berduyun-duyun menuju Tennis Indoor Senayan sejak pukul 16.00 WIB. Mereka akhirnya diizinkan masuk oleh pihak penyelenggara konser tersebut pada pukul 19.00 WIB.
Setengah jam menjelang konser, Nicky, Kian, Mark, dan Shane masih menyempatkan diri untuk menggelar jumpa pers di Tennis Indoor Senayan. Mereka mengaku gembira bisa manggung lagi di Indonesia, sesudah tiga konser terdahulu, pada 2000, 2001, dan 2006. "Ini akan terasa 'gila', kami sangat antusias malam ini," tutur Kian dalam jumpa pers itu.
Boyband yang lahir pada 3 Juli 1998 ini mengaku tak akan pernah bisa melupakan kesenangan pada setiap konser mereka yang pernah digelar di Indonesia. "Memang banyak negara kami kunjungi, tapi di Indonesia kami menemukan banyak kegembiraan," ucap Shane.
Untuk memastikan bahwa mereka masih dinanti, Westlife meminta para wartawan dalam jumpa pers tersebut menyanyikan bersama salah satu lagu populer mereka. "Banyak lagu hit Westlife di Indonesia. Tapi, saya rasa yang paling top itu 'My Love'. Benar, kan?" kata Nicky. "Coba kalian nyanyikan 'My Love' sekarang," pintanya diikuti oleh nyanyian para wartawan. "Woohooo... we love you, Indonesia," sambungnya. "Kalian sudah merasakannya? Pokoknya malam ini kami akan 'gila-gilaan'," timpal Kian.
Setelah membakar para wartawan di ruang jumpa pers, Westlife bersiap-siap naik ke panggung. Sesi tanya-jawab pun mereka abaikan.
Sementara itu, di depan para penonton bertiket Festival dan Tribun, boyband dalam negeri XO-IX sedang tampil untuk "pemanasan" konser itu, dengan menyajikan  "Cukuplah Sudah", "Cinta Kan Membawamu", dan medley lagu-lagu boyband ternama era 1990-an, antara lain New Kids On The Block dan Backstreet Boys.
Detik-detik yang mendebarkan lalu tiba. Adrenalin kira-kira 9.000 penonton seolah mengucur deras begitu keempat personel Westlife--yang mengenakan kostum formal jas dan celana panjang hitam serta kemeja putih dan dasi hitam--muncul di pentas dan menggelindingkan "When You're Looking At". Kontan, para penonton, yang kebanyakan perempuan, berteriak histeris.
Nicky, Kian, Mark, dan Shane, yang kini  berusia 30-an, masih membuat para perempuan yang menonton gemas, dari ABG hingga ibu-ibu, dan dorong mendorong untuk sampai ke barisan paling depan dekat barikade yang memisahkan area penonton dengan area panggung. "Akhirnya, kami bisa menjumpai anda kembali. Saya harap kalian tidak hanya berteriak, tapi bernyayi bersama. Berikutnya, sebuah lagu dari 1997. Saya harap anda bisa bernyanyi bersama kami. Tapi, ingat, tolong perhatikan, jangan sampai ada yang terluka," seru Mark.
Selanjutnya, Westlife meluncurkan "World of Our Own" dan "What Makes a Man", sebelum mereka mengganti kostum pertama dengan jaket coklat berpadu celana jins coklat. Sayangnya, usai "Home" disuguhkan oleh Westlife, para penonton justru menggila dan tak henti-hentinya berteriak histeris. Beberapa petugas medis pun sibuk menandu sejumlah penonton yang pingsan akibat terhimpit.
Melihat kondisi tersebut, Westlife, yang seharusnya menyajikan "My Love", terpaksa menghentikan sementara aksi mereka. "Mundur... mundur... jauh-jauh dari situ (barikade). Anda berhentilah saling dorong satu sama lain," seru Nicky dengan nada tegas.
Mark dan Shane berusaha membantu Nicky menenangkan para penonton yang mulai sulit dikendalikan. "Nicky... Nicky... jangan begitu (keras) menegur. Anda (para penonton), dengarkan kami baik-baik. Kalau anda tidak mundur dan berhenti berdorong-dorongan, kami akan menghentikan pertunjukan. Ini demi keselamatan kalian," ujar Mark.
Karena para penonton belum juga bisa diatur, pihak penyelenggara konser, Marygops Studio, Shaane Harjani, turun tangan bersama seorang petugas keamanan. Mereka memperingatkan para  penonton agar mundur dua langkah. "Masih mau nonton pertunjukan? Kalau mau sama-sama enak, sekarang yang di festival semuanya duduk dulu biar enak, kalau mau Westlifemanggung lagi," kata kepala petugas keamanan konser tersebut. Dari bagian depan-bawah panggung, sejumlah petugas keamanan lainnya melemparkan minuman-minuman ringan dalam botol untuk menolong sebagian penonton yang tampak sangat kehausan.
Supaya area Festival tidak terlalu penuh, sejumlah penonton bertiket Festival lalu diminta oleh pihak penyelenggara pindah ke area Tribun. Namun, ternyata area Tribun pun sudah padat. "Sudah penuh, nanti risikonya jatuh, karena ini tribun," kata seorang petugas keamanan di area Tribun. "Ah... gimana sih, di bawah juga disuruh ke atas, tapi di atas malah dibilang penuh," ujar beberapa penonton. "Tenang, mereka akan trial satu lagu, apakah pertunjukan bisa dilanjutkan atau tidak," seru kepala petugas keamanan konser itu dari panggung.
Setelah kira-kira 30 menit berhenti beraksi, Mark cs pun melanjutkan konser mereka dengan lagu "My Love". "Kami akan melanjutkan pertunjukan, asal anda berhenti saling mendorong. Kami tak ingin anda terluka," pinta Mark sebelum ia dan teman-temannya tampil lagi.
Westlife agaknya benar-benar dibuat repot oleh para penonton yang membandel. Padahal, dalam jumpa pers, Westlife mengaku ingin resep persahabatan mereka, tanpa mencederai satu sama lain, ditiru oleh para penggemar. "Kami besar bersama lebih dari 12 tahun. Kami berteman lama sebelum ini (kesuksesan) semuanya," ucap Mark. "Tidak ada dasar yang kuat selain hal tersebut dalam persahabatan," lanjutnya.
Untungnya, akhirnya "kegilaan" tak terduga dari para penonton sanggup diatasi. Usai "My Love', Westlife menjajal "Beautiful Tonight" dengan harapan tidak ada lagi aksi dorong mendorong. "Baiklah, jangan ada saling dorong lagi. Kami berempat tak ingin kalian saling melukai. Semua bersahabat bukan?" seru Mark.
Namun, dengan penghentian sementara konser tersebut selama 30 menit dan waktu pertunjukan yang tidak diperpanjang, Westlife tak bisa menyuguhkan semua lagu dalam repertoar mereka. "Viva La Vida", "Only Girl in the World", "Time of My Life", "Dirty Bit", dan "Bad Romance" batal mereka bawakan. Mereka langsung meloncat ke lagu-lagu berikutnya, seperti "You Rise Me Up", "Already There", dan "Flying Without Wings". Konser itu mereka akhiri dengan "Up Town Girl".

Selasa, 23 Maret 2010



KISAH NYATA : PERMINTAAN SEORANG PUTRA

Sebagai seorang wanita yang cantik, Dina memiliki hampir segala yang diimpikan kaum wanita. Parasnya ayu, manies dan selalu enak dipandang. Bentuk hidung, mata, alis, bulu mata hingga ke garis pipi yang tertata indah bak bulu perindu diatas bintang timur diwaktu senja. Posturnya tubuhnya sangat ideal untuk seorang wanita. Kulitnya yang putih dan jenis rambutnya yang panjang hitam bergelombang menambah nilai keaggunannya. Kemolekan lekuk tubuhnya menyebabkan ia sering disebut wanita terseksi.

Dina, seorang wanita karir pada salah satu perusahaan swasta besar di Ibukota, termasuk wanita yang cerdas. Ditunjang pendidikan formalnya yang merupakan alumni Pasca Sarjana Komunikasi Universitas ternama.

Loyalitas terhadap perusahaan tidak diragukan lagi, sehingga menjadikan dirinya sebagai salah satu ’maskot’ pegawai diperusahaannya. Tak heran bila karirnya bagai ’rising’ star. belum sepuluh tahun bekerja, dia sudah menduduki jabatan penting, setingkat Department Head (Kepala Bagian). Dikenal dekat dengan bawahan. Suppel dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan jajaran pimpinan. Tipikal Dina selalu menjadi bahan pembicaraan dikalangan pegawai, gunjingan hingga tentu saja ’fitnah’ dari orang-orang yang tidak menyukainya. Apalagi ketika terdengar kabar bahwa dia akan dipromosikan menjadi salah satu deputy kepala divisi.

’Ah…paling dengan keseksiannya’ kata mereka yang tidak suka.

—oooOooo—

”Ibu mau kemana….?” tanya Fitri, puteri bungsunya

”Ibu mau berangkat ke kantor nak…” jawab Dina, sambil merapihkan pakaiannya

”Kok masih gelap bu….bareng ayah gak bu…?” tanya Fitri lagi dengan bahasa anak yang agak cadel

”Ayah khan belum pulang nak. Masih di Bandung…” jawab dina, tanpa memalingkan wajah dari cermin hiasnya

Jam masih menunjukkan pk. 04.25 pagi. Hari masih gelap. Anak-anaknya masih terlelap, kecuali Fitri yang terbangun karena mendengar suara peralatan riasnya.

”Aku tidak boleh terlambat…aku harus tiba sebelum Bos dan Klienku datang..” pikir Dina dalam hati

”Bu, aku masih mau tidur….” kata Fitri

”Iyya nak….”

Dina mencium kening anak puteri satu-satunya itu. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya erat sambil berkata pelan, ”Nanti sekolah sama si Mbok ya….sarapan disekolah juga gak apa-apa kok…Ibu harus berangkat pagi-pagi…”

”Ah, Ibu…kemarin sudah pegi pagi…kemarinnya lagi pagi, sekarang pagi lagi…” keluh Fitri, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya

”Fitri, Ibu bekerja juga untuk Fitri. Untuk sekolah Fitri dan Adit…..untuk membelikan Fitri rumah-rumahan dan masak-masakan…” jawab Dina pelan

”Tapi Ibu selalu pulang malam. Fitri gak pernah tidur bareng Ibu. Makan sama si Mbok…sekolah juga sama si Mbok….” keluh Fitri lagi sambil menggulingkan tubuhnya.

”Fitri, Ibu mau berangkat…..kamu berangkat sama si Mbok ya…!” seru Dina dengan sedikit keras dan wajah agak memerah.

Dina segera keluar kamar. Dia memang tidur bersama anak puterinya yang masih berusia tiga tahun. Ketika akan membuka pintu kamar, Dina menyempatkan diri melihat raut wajahnya dicermin.

Terlihat jelas rona merah diwajahnya. Warna kulitnya yang putih menambah kejelasan ’rona merahnya’. Dina menghela nafas panjang, kemarahan sesaat telah merubah tutur bahasanya. Sudah merubah pula paras ayunya…

”Huh…Fitri selalu membuat aku marah….Fitri sering memperlambat jalanku ke kantor…” keluhnya sambil mengusap keringat didahinya.

”Ah sudah pk. 04.45…aku bisa terlambat …”

Dina mempercepat langkahnya. Sampai diteras rumah keraguan muncul dihatinya….Dia belum sempat bicara dengan Adit, anak sulungnya…

”Ah dia khan sudah tujuh tahun. Sudah lebih besar. Dia pasti ngerti lah…”

—oooOooo—

Presentasi mengenai pengembangan perusahaan, khususnya bidang komunikasi, kemitraan dan pemasaran yang dipaparkan Dina memdapatkan sambutan luar biasa dari Stake Holder (Pemegang Saham, Komisaris, Jajaran Direksi dan Mitra Kerja). Sambutan itu ditandai dengan tepuk tangan meriah sambil berdiri dan ucapan selamat yang seolah tak putus.

Senyum sumringah tersembul dari wajah Dina. Perasaan puas memenuhi rongga hatinya. Dia menghela nafas panjang. Memejamkan mata sesaat….”Akhirnya aku berhasil….”

Untung aku bisa mempersiapkan diri dengan baik. Untung juga aku tiba lebih awal sehingga bisa mengkondisikan semuanya…….

”Dina selamat ya….tidak sia-sia kami menempatkan kamu sebagai Dept Head Promosi & Kemitraan…..” kata seorang Direksi sambil menjabat erat tangan Dina.

Jabatan tangan yang terasa ’lain’. Terasa ada getaran ’hangat’ yang menjalar melalui jari-jari terus hingga pangkal tangan, dan meluncur deras dihati. Jantung berdegup kencang…entah perasaan apa itu. Yang jelas perasaan itu membuatnya pikirannya ’kacau’, hatinya diliputi oleh suatu misteri..entah misteri apa

”Dina, kerja kamu luar biasa…..masih muda, cantik, jenius….tak salah jika Perusahaan memberimu posisi tsb…..” kata seorang Komisaris

Pujian komisaris menambah kencang degup jantungnya…seolah darah berhenti mengalir. Seolah kaki sulit untuk digerakkan. Dengan menghirup nafas pelan, Dina membalas pujian tsb

”Terima kasih Pak..terima kasih…semua berkat bantuan dan bimbingan Bapak…”

”Berapa usiamu sekarang… adakah 40…?” tanya Komisaris itu lagi

Dina tersipu malu…..rona merah kembali menghiasi wajahnya….

”Saya baru 34…. Pak…” jawab Dina sambil tertunduk malu

”Wow…Surprise…kita memiliki calon direksi termuda. Cantik, jenius dan ber-visi…semoga kamu sukses ya….”

Dina terkesima. Tak percaya. Calon direksi….? ah, gak mungkin… aku salah dengar….

—oooOooo—

Minggu, pk. 04.00 Dina terbangun.

Ohhhhh….lelah pikiran dan badannya membuatnya agak sedikit malas untuk bangun. Namun undangan stake holder untuk sekedar minum kopi pagi di Kafe Padang Golf mengharuskan dia untuk segera bergegas…..

”Ah….ngantuknya…..”

Dina kembali merahkan badannya….rasanya dia ingin meliburkan diri bersama anak-anaknya….terutama Fitri yang kemarin membuatnya sedikit marah….

Tapi…undangan Direksi dan Komisaris adalah sebuah ’Perintah’…laksana titah Raja yang harus dijalankan, meskipun hanya ajakan sambil lalu…

”Ahhhh…..”

Dina mulai menyiapkan diri. Mandi pagi dan sedikit bersolek….tampil agak cantik dan…hmmmm..seksi dikit rasanya tidak apa-apa. Toh akan bersantai bersama orang-orang penting ’penguasa’ kantor….’apalagi bila….bila ada yg tertarik padaku…’ pikirnya..

’ah pikiran ngelantur…..’ pikirnya lagi

”Ibuuuu….Tolong tiduri aku Bu….” seru Adit sambil berjalan pelan dan membawa bantal guling yang sarung entah kemana

”Adiiit….?” tanyanya heran

”Adiit….” seru Dina kembali. Heran, tidak biasanya Adit bangun pagi dan pindah ke kamarnya.

”Ibuuu…tolong tiduri aku bu…semalam aku gak bisa tidur…aku kepikiran Ayah….aku ingin bermain bersama Ayah….”

”Adit. Hari ini Ibu masuk kantor….Ibu akan bertemu Bos di kantor…” jawab Dina

”Ibuuu…tolong tiduri aku…aku ngantuk …pengen tidur bareng Ibu…” pinta Adit, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Dina, Ibundanya…

Dina terdiam. Hatinya semakin membuncah….perasaan malas memenuhi undangan Direksi kembali muncul….tapi motivasi untuk memperlihatkan loyalitas demikian tinggi…dus, dia sudah berdandan seksi.

Diusap-usap perlahan kepala Adit. Rambutnya yang sedikit ikal bergelombang mirip seperti rambutnya. Bentuk wajahnya yang agak oval dan halus merujuk pada ayahnya…

”ahhh..aku jadi ingat Mas Darman. Wajah Adit mirip ayahnya….semalam dia memberi kabar kalau Meeting di bandung diperpanjang karena banyak Klien baru yang ikut datang….” bathin Dina dalam hati….seketika ia merasa bersalah dengan suaminya.

”Adiiit, Ibu harus pergi sayang…..Ibu harus masuk kantor…..”

”Tapi buu…” Adit tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Dina mengangkat kakinya perlahan, sehingga kepala Adit berpindah ke bagian pinggir tempat tidur.

Dina meneruskan riasannya dimuka cermin yang ada di sisi kanan tempat tidurnya. Bibirnya diolesi lipstick tipis warna merah muda, sesuai dengan pakaian yang dikenakannya. Pakaian terbaik yang dimilikinya, hadiah Ulang Tahun dari Mas Darman suami tercinta.

”Mas Darman pasti akan silau bila melihat aku sekarang. Pasti akan memujiku ’Cantiiik’..hehehe…sayang dandananku saat ini untuk orang lain….”

”Huk..huk..huk..” suara batuk kecil beriak keluar dari mulut Adit

”Adiit, kamu batuk. Jajan apa kamu kemarin” tanya Dina sambil terus memainkan penghalus bedak dipipinya

”Huk..huk..huk..” suara itu kembali terdengar

“Mboookkk….tolong ambilkan air putih hangat. Adit batuk nih” teriak Dina dari dalam kamarnya

Tepat pk. 05.00 Dina meluncur menuju Kafe Padang Golf. Perjalanan akan memakan waktu 30 menit. Cukuplah. Karena pertemuan dan sarapan kopi pagi baru akan dimulai pk. 06.00. Tapi biasanya banyak yang sudah datang dengan perlengkapan stick golf, termasuk pemilihan ’caddy’ pendamping permainan golfnya nanti.

—oooOooo—

Dina sangat menikmati suasana Kopi Paginya. Dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tidak ada lagi perasaan canggung, malu dan minder bercengkerama dengan jajaran Direksi, Komisaris dan Pimpinan Unit Mitra Kerja. Apalagi dalam acara yang dikemas secara informal ini. Seolah ia sudah menjadi bagian dari mereka. Jajaran elit perusahaan.

”Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu…meski tak layak ku harap debu Cinta-MU” ringtone HP Dina berbunyi….

”Maaf Pak,,,,,,,” Dina tak sanggup meneruskan kata-katanya untuk meminta ijin mengangkat Hpnya

”Silakan ..silakan….ini suasana santai kok” jawab salah seorang Direksi

”Permisi Pak”

”Meski begitu ku akan bersimpuh… Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu….” ringtone itu terus berbunyi…

Ditempat yang agak jauh dari kerumunan orang Dina mengangkat Hpnya…

”Hallo….” sapanya

”Bu…kamu ada dimana sekarang….?” tanya suara disana dengan lembut

”Sedang bersama Direksi dan komisaris di kantor.. Yahas…” jawab Dina

Ohhh,…ternyata dari mas Darman, suaminya. Dina terbiasa memanggilnya Ayah, menyesuaikan diri dengan panggilan anak-anaknya

”Loch emangnya masuk… ?” tanya Mas Darman lagi

”Iyya Yah…”

”kapan pulangnya…Adit sakit di rumah kata si Mbok…”

”nanti siang…..atau mungkin juga sore…”

”Yaa sudah…biar Ayah saja yang pulang segera”

—oooOooo—

Pk. 15.30 Dina kembali kerumahnya. Sarapan Kopi Pagi di kafe Padang Golf ternyata diteruskan dengan acara ramah tamah dan meeting informal dengan Mitra Kerja dan Klien. Beberapa Kontrak Kerja ’deal’ setengah kamar dalam ramah tamah itu. Dina baru mengetahui kalau banyak ’deal’ ’deal’ kontrak kerja yang putus di Kafe, Padang Golf serta jamuan makan. Mungkin karena lebih santai dan informal….pikirnya, sehingga lebih mudah untuk bicara dari hati ke hati

Tiba di ujung jalan pemukiman, Dina melihat banyak orang berduyun menuju satu rumah dengan membawa nampan, rantang dan gelas-gelas kecil.

”Ada apa ini…?” tanya Dina dalam hati

Ada bendera kuning terikat di atas tiang listrik tepi jalan…

”Ohh ada yang meninggal….”

Dina mempercepat langkahnya. Ia juga ingin melayat. Ia tak ingin juga tertinggal dalam urusan sosial di lingkungannya….

Tak berapa lama Dina tersentak. Kakinya kaku tak bisa digerakkan….dia melihat banyak orang berkerumun dipekarangan rumahnya. Kebanyakan ibu-ibu dan wanita yang mengenakan pakaian berwarna gelap dan berkerudung. Bapak-bapak ada di ruang tengah…

”ohh…apakah…apakah…..”

”Tidaaaakkkkkkkkk”

Dina mencoba untuk berlari. Namun kakinya semakin sulit bergerak.

Air mata Dina deras mengalir ketiak ia melihat seorang bapak berpeci hitam dan berpakaian muslim putih sedang melantunkan ayat-ayat Qur’an. Dari suaranya tersendat terlihat jelas bahwa Bapak itu menahan tangis. Kadang sesegukan sesekali menghambat laju bacaan Qur’annya..

”Mas Darman…..Ayahhhhhh” seru Dina setengah berteriak

“Ayah siapa yang meninggal Yah….?” tanya Dina kepada Bapak yang sedang mengaji tadi

”Ayah..siapa yah….?” tanyanya lagi

Bapak tadi tidak menjawab. Telunjuk jarinya mengisyaratkan bahwa Dina bisa membuka kain kafan yang belum tertutup

Dengan sedikit merangkak, Dina berjalan tersendat, dan membuka kain kafan penutup wajah si mayit.

”Yaa Allah…Aadiiitttt” Dina langsung memeluk tubuh jenazah itu

”Maafkan Ibu Nak….maafkan Ibu nak…….” teriak Dina keras, membuat seisi rumah menoleh kepadanya. Bahkan beberapa orang yang berada di luar juga berlari kearah rumah

”Adddiiiiittttt….Sini nak…Ibu akan tiduri kamu…Ibu akan tidur bersamamu Nak…..”

”Addiiittttt bangun nak..Ibu sudah pulang…Ibu sudah pulang nak….”

”Ibu ingin tidur bersama mu….”

Dina meraung keras seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya….air matanya mengalir deras. Tak kuasa menahan sedih. Rasanya ingin sekali ia menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu agar kembali bergerak….namun Mas Darman segera merangkulnya. Memeluknya. Dan mencium keningnya…

”Bu….ini salah kita..salah Ayah….Ayah terlalu sering meninggalkan keluarga..”

”Bukan Yah…ini salah Ibu…tadi pagi Adit minta ditemani tidur, tapi Ibu tolak…”

”Ya sudahlah…ini salah kita semua. Adit terkena paru-paru basah a
kut. Dan terlambat ditolong…..”

Minggu, 21 Maret 2010


ITULAH DEDI NGEFANS BANGET SAMA YANG NAMANYA WESTLIFE DIA NGEFANS SEJAK TAHUN 1999 SAMPAI SEKARANG DAN DIA NGEFANS JUGA SAMA ACTOR DARI USA YAITU JOSH HUTCHERSON SEJAK TAHUN 2005 DIA NGEFANS SAMPAI SEKARANG